Senin, 10 Maret 2008
HARD TAIL atau FULL SUSPENSION
Sepeda gunung ada yang dilengkapi suspense depan saja (hard tail), ada juga yang memiliki suspense depan dan suspense belakang (soft tail atau full suspension). Ketika menanyakan hal ini, biasanya para pemula akan disarankan memulai dengan hard tail. Alasannya antara lain agar pemula terlebih dahulu membiasakan diri dengan sepeda yang lebih ringan, efisien dalam mengayuh, mudah dalam pengendalian, sederhana dalam perawatan, dan lebih murah. Baru setelah jam terbangnya dengan hard tail cukup banyak dapat beralih ke full suspension (fulsus). Gbr. 01 Sepeda jenis hardtail Saat ini sudah banyak yang langsung menggunakan fulsus tanpa harus memiliki jam terbang hard tail. alasannya adalah, kini banyak sepeda fulsus yang memiliki performa dan efisiensi mendekati hard tail. Untuk sepeda “kelas atas” umumnya sudah memiliki performa yang dibutuhkan. Bila anggaran memadai tidak ada salahnya langsung mencoba fulsus. Gbr. 02 Sepeda jenis softail Begitu pula bagi orang-orang yang baru memulai sepeda pada usia 30-an ke atas, memilih fulsus akan membuat bersepeda menjadi lebih nyaman. Tentunya yang dipilih bukan fulsus “asal jadi” yang memiliki efek “bobbing“ cukup besar, sepeda ini bukan memberikan kenyamanan tetapi justru menyengsarakan. Bahkan bias membuat kapok bersepeda. Satu hal yang pasti, pemula disarankan membeli sepeda cross country terlebih dahulu. Baik untuk hard tail ataupun fulsus. Jangan membeli sepeda free ride apalagi down hill. Agar tidak salah dalam menentukan pilihan, sebaiknya tentukan dulu berapa budget belanja untuk sepeda anda. Jika memiliki budget Rp 700 ribu, carilah seped seharga itu. Jangan tergiur dan kebablasan membeli sepeda di atas budget yang disedakan. Tentunya semakin mahal harga sepeda, akan semain baik baik pula kualitasnya. Tetapi anda juga harus berhati-hati dengan barang mahal yang dijual. Usahakan untuk meneliti barang sebaik mungkin, dan cocokan dengan data yang ada peroleh dari berbagai sumber, bias dari internet atau took-toko sepeda yang lain. Memiliki sepeda murah tidak berarti pemiliknya hina, memiliki sepeda mahal juga tidak menandakan pemiliknya mulia. Ini hanya masalah seberapa tebal kantong anda. Bagi yang berpenghasilan Rp 1,5 juta per bulan, ponsel seharga Rp 350 ribu sudah mencukupi. Tapi bagi yang berpenghasilan Rp 10 juta per bulan tentunya tidak. Analogi ini berlaku pula dalam memiliki sepeda. Dari yang berharga Rp 500 ribu-an sampai puluhan juta rupiah juga ada. Dari pada mempersoalkan gengsi, lebih penting bagi anda untuk membuktikan bahwa sepeda murah tetap lebih jago di tanjakan, lebih piawai di medan off road, dan lebih kuat endurance-nya. Sambil tentu saja sisihkan penghasilan agar ke depannya dapat meng-upgrade atau membeli sepeda yang lebih sesuai. (sindo) |
posted by ade candra at 01.03